Review Train To Busan (2016)

Review train To Busan (2016)


Halloween tahun ini benar-benar kebanjiran film-film bagus bergenre horror/thriller, terhitung ada lebih dari empat film yang patut diacungi jempol. Pertama film arahan Jaume Collet-Serra "The Shallows" yang bercerita tentang seorang perempuan bernama Nancy yang diperankan oleh Blake Lively yang bertahan dari serangan hiu ganas, dilanjutkan dengan horror "Lights Out" karya David F. Sandberg yang berhasil memanfaatkan unsur gelapnya, ketiga ada "Don't Breathe" arahan Fede Alvarez sebuah film thriller home invasion dan terakhir tentu saja "Train to Busan" karya Sang Ho-Yeon. Judul film yang saya sebutkan terakhir merupakan film bertemakan zombie. Bukan hal yang baru didunia perfilman jika kita mendengar film tentang film zombie, lalu bagaimana dengan Korea Selatan yang menjadi tuan rumahnya? 
World War Z film tentang zombie milik Brad Pitt mungkin adalah yang terbaik tentang film yang bertemakan zombie, namun tidak setelah Train To Busan dirilis Agustus kemarin. Train To Busan berhasil menarik minat penonton di pemutaran perdananya, khususnya di Korea Selatan. Premisnya mungkin bukan hal yang baru, dengan kisah zombie akibat virus entahlah lalu menggigit manusia lain, lalu jadilah wabah mengerikan yang mengakibatkan banyak korban jiwa di seisi negara. Namun, narasi sendiri berpusat pada sosok ayah Seok-Woo yang diperankan oleh Gong Yoo, seorang manager dari sebuah perusahaan keuangan yang terpaksa harus mengantar anaknya Su-an (Kim su-an) ke Busan dengan sebuah kereta di petang pagi untuk menemui mantan istrinya. Namun tak disangka, disaat yang bersamaan wabah zombie kian merebak mengakibatkan kekacauan di Seoul, hingga tanpa disadari seorang perempuan yang tergigit berhasil masuk gerbong kereta dengan cepat tanpa sepengetahuan petugas kereta.
Train to Busan memang bukan film zombie dengan kengerian yang brutal, darah merah yang membeku, otak berceceran atau usus yang keluar, tak akan kalian temukan disini. Namun Train to Busan menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan film zombie lainya. Problem tiap karakter utama ditampilkan dengan sangat baik, khususnya karakter seorang ayah yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk anaknya, lalu seorang suami yang melindungi isitrinya yang tengah hamil. Train to Busan berhasil menampilkan kondisi tiap pemain dengan sangat baik, wajar bila kalian akan merasa baper bukanya jijik saat menyaksikan film ini.Train to Busan dibawah arahan sutradara Yeon Sang-ho bisa dibilang membawa subgenre ini satu langkah lebih tinggi dari kebanyakan koleganya. Memanfaatkan ruang sempit lorong kereta sebagai latar belakang setiap terornya, dalam kasus ini Korea Selatan dengan kereta cepat KLX-nya, Sang-ho benar-benar tahu bermain-main dengan efek klaustrofobik di 45 menit pertamanya. 
Tensi dibangun dengan sangat baik oleh Sang-ho, ia benar-benar tahu cara memaksimalkan latar belakang sebuah gerbong kereta hingga menjadi panggung yang mengerikan dan mencekam. Gerbong gerbong dilewati demi menyelamatklan orang yang dicintai, stasiun pun begitu hingga buta arah mau kemana, hingga Busan yang menjadi tujuan akhir yang konon katanya berhasil bertahan dari serangan zombie, namun Sang-ho tak membiarkan penonton begitu saja menebak jalan cerita, Sang-ho tahu benar cara memberikan kejutan demi kejutan ditiap menitnya. Seperti kebanyakan film Korea lainya, Sang-ho berhasil mengaduk-aduk hati penonton dengan drama yang dihadirkan di menit-menit akhir. Memang tak seperti film zombie lain, yang berisi darah beku atau ceceran otak, namun dengan latar belakang yang baik dan narasi yang dibangun, serta melodrama yang dihadirkan Train to Busan menjadi film zombie terbaik yang pernah saya saksikan.
Train To Busan (2016)




8.0Xinemagz.com


Previous
Next Post »
Comments
0 Comments