Review Hacksaw Ridge (2016)



Review Hacksaw Ridge (2016)

“Lord, please help me get one more, one more”

Setelah mendengar kabar Februari tahun lalu, ditetapkanya Mel Gibson sebagai sutradara film drama perang dunia ll, 'Hacksaw Ridge'. Tentunya ini kabar gembira, karena sudah hampir 10 tahun Mel Gibson tidak menduduki kursi sutradara, setelah film sebelumnya Apocalypto ditahun 2006 yang mengambil latar Mesoamerika, berhasil membuat para penikmat film kolosal terkagum-kagum menyaksikanya. Wajar saja jika seorang mel Gibson meraih banyak penghargaan, sejak karirnya sebagai aktor , sebut saja Mad Max ditahun 1979, dilanjutkan sekuelnya Mad Max 2 ditahun 1981, Karir Gibson terus melonjak naik. Dilanjutkan Braveheart dimana Gibson menyutradarai film ini sekaligus membintanginya, seolah dibayar lunas kerja kerasnya, tak tanggung-tanggung 5 Academy Awards tahun 1996 berhasil Mel Gibson bawa pulang. Tak heran bila banyak penikmat film, masih menunggu karya-karya Mel Gibson sebagai sutradara ataupun aktor. Penantian panjang para fans pun terbayar lunas, lewat karya terbarunya Hacksaw Ridge Mel Gibson kembali berulah, sebuah film biopik perang dunia ke-2 yang sayang untuk dilewatkan.

Dessmond T. Doss seorang tentara pembangkang idealis peraih Medal of Honor, dipertempuran perang dunia ke-2 di Okinawa, yang enggan membawa senjata didalam pertempuran karena keyakinanya yang kuat. Entah kenapa, sebuah cerita kisah nyata yang apik ini baru diangkat kelayar lebar tahun ini, seolah terlewatkan begitu saja hingga Mel Gibson ditunjuk sebagai sutradara tahun lalu untuk menggarap film ini. Beberapa aktor pun di saring, hingga Andrew Garfield pemeran Peter Parker di The Amazing Spider-Man terpilih sebagai Dessmond T. Doss.
Cerita dibuka langsung dengan sebuah pertempuran dahsyat tentara Amerika melawan pasukan Jepang di Okinawa, sebelum kita tahu apa yang terjadi, Mel Gibson dengan baik menarik cerita kembali ke 16 tahun sebelumnya. Dimulailah perkenalan satu persatu karakter di film ini secara perlahan dan rapih. Dimana ada sebuah keluarga kecil di Lynchburg, Virginia, disitulah Desmond  T. Doss kecil (Roman Guerriero) dan saudaranya Dessmond (Darcy Bryce) tinggal bersama ayahnya Tom Doss (Hugo weaving) yang merupakan veteran perang dunia ke-1 dan ibunya Bertha Doss (Rachel Griffiths) seorang pengikut gereja.

Disinilah Andrew Knight dan Robert Schenkkan harus bekerja keras dengan naskahnya, karena butuh lebih dari separuh film untuk melihat aksi sebenarnya Doss di pertempuran. Karena naskah awal harus menjadi pondasi untuk cerita inti supaya jalan cerita di pertengahan film dan akhir film dapat penonton pahami dan mudah kita cerna. Seperti hubungan Desmond dan kakaknya, serta ibu dan ayahnya, pasalnya ayahnya yang merupakan seorang mantan pejuang perang dunia ke-1 menjadi sosok yang kejam suka memukuli istrinya dan pecandu alkohol. Beranjak dewasa, Desmond T. Doss (Andrew Garfield) tumbuh menjadi sosok yang baik dan patuh terhadap agamanya, sehingga Desmond menjadi anggota gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Pertemuan Dengan Dorothy Schutte (Teresa Palmer) pun terjadi secara tiba-tiba, dimana Desmond bertemu Dorothy dirumah sakit akibat insiden yang menimpa seorang lelaki didepan gereja. Dari pengalaman itulah sisi idealisme dan spiritualisme Desmond terbentuk, sehingga membuat Desmond melihat dari sudut pandang yang berbeda tentang peperangan.

Tibalah saat Desmond memutuskan untuk menjadi tentara medis di pertempuran perang dunia ke-2, dimana Desmond bertemu teman seperjuanganya nanti, Kamp pelatihan. Jika kalian pernah menyaksikan film Full Metal jacket, kalian akan ingat adegan ini, dimana satu persatu prajurit baru dibentak oleh Sersan mereka Sersan Howell yang diperankan oleh Vince Vaughn disebut 'bodoh' ataupun 'kurus'. Disinilah ada bumbu-bumbu komedi, dimana teman seperjuangan mendapatkan julukanya masing-masing. Latihan pun dimulai,dari berlari, memanjat tali, merangkak di lumpur, namun kamp pelatihan tak berjalan mulus seperti yang Desmond harapkan, dimana saatnya Desmond dan semua kawanya harus mulai belajar menggunakan senjata. Konflik internal sesama pejuang pun timbul karena Desmond yang tak mau menggunakan senjata, dicap pembangkang oleh atasanya, dan disebut melanggar aturan kemiliteran karena menolak perintah atasan. Hari-hari di kamp pelatihan pun terasa sulit, hingga puncaknya Dessmond harus rela berada di penjara.

Sudah, kelar filmya, What?
Tentu saja tidak, mungkin kamu bisa menebak sedikit alur cerita dimana Dessmond bisa keluar dari penjara, lalu bisa ikut perang nanti. Memasuki medan pertempuran Gibson mampu menyajikan kengerian didalam pertempuran, pertempuran terjadi begitu cepat namun Gibson mampu menyajikanya dengan jelas setiap karakter dalam film ini. Desiuuuw, Desingan peluru, ledakan granat tersaji dengan sangat baik dalam sinematografi Simmon Duggar, cemas dan panik serta ketakutan bercampur aduk tatkala pasukan Jepang yang berani mati mulai menyerang membabi buta. Disini kalian akan melihat betapa mencekamnya peperangan, dimana banyak yang mati, darah berserakan, kaki hancur tangan hancur, usus keluar, itulah sedikit gambaran dari perang dunia  ke-2 yang disajikan Hacksaw Ridge. Kisah heroik Dessmond dimulai disini, tanpa senjata di tanganya dia berlari mengendap melewat mayat-mayat mencari pasukan yang terluka lalu membawanya mundur.

Sebagai sutradara, Mel Gibson sukses menyajikan film drama perang yang mencekam dan memilukan hati, menelan biaya produksi Rp523 miliar, gibson berhasil melaksakanan tugasnya dengan baik. Meski sebelumnya sempat diragukan, karena Mel Gibson sudah tak mengeluarkan karyanya 1 dekade, namun film produksi Summit Entertainment ini mendapatkan standing ovation saat pemutaran diajang film Venice Film Festival 2016.

Mungkin ini dbisa disebut kembalinya 2 orang hebat, Mel Gibson dan Andrew Garfield. Mel Gibson melaksanakann peranya sebagai sutradara dengan baik, pun begitu dengan Andrew Garfield sebagai pemeran utama. Seolah mampu menyihir para penonton, sosok Dessmond T. Doss mampu digambarkan dengan cakep oleh Andrew Garfield, sosok yang kurus, pembangkang. Dari cara berdiri lalu meletakan kedua tanganya di pinggulnya sendiri, ini adalah pola yang jarang kita temui pada orang umum zaman sekarang.
Tak ketinggalan karakter pendukung lainya pun tak lepas dari perhatian, dimana ada sosok ayahnya Tom Doss yang diperankan oleh Hugo Weaving, diperankan dengan sangat baik olehnya. Lalu ada sersan Howell (Vince Vaughn) dan Captain Glover (Sam Worthington) yang mampu mendukung karakter utama dengan sangat baik.

Dengan naskah yang mendukung, aktor yang pas, serta hal lain yang menjanjikan, bisa saja film Hacksaw Ridge akan mampu mengantarkan Mel Gibson meraih Piala Oscar. Seperti yang Saya sebutkan tadi, mel Gibson juga pernah merarih gelar sutradara terbaik lewat filmnya Braveheart.

Skor Hacksaw Ridge (2016) 8/10


Previous
Next Post »
Comments
0 Comments